Gunung penanggungan via kesiman sukereno prigen


Gunung penanggungan via kesiman sukoreno prigen dari surabaya
17-18 september 2017

Ket : Ya diatas adalah banner pos perijinan pendakian gunung penanggungan jalur kesiman sukoreno prigen.


Btw saya ingin berbagi pengalaman mendaki via jalur ini :
Sebenarnya tidak ada niatan untuk mendaki gunung penanggungan dalam rencana kami, karena rencana awal kami yang menjadi tujuan kita adalah gunung pundak yang lokasinya juga se area dengan gunung penanggungan, namun pada saat kita sampai sana ternyata ditutup jalur gunung pundak dikarenakan adanya kebakaran dilereng welirang yang pada intinya tidak diperbolehkan untuk mendaki pada saat itu. Al hasil akhirnya kami mencari alternatif lain dengan kondisi pada saat itu sudah menunjukan pukul jam 02.an maka kita bergegas mencari alternatif yaitu gunung penanggungan. Digunung penanggungan sendiri adalah gunung yang paling terkenal bagi pemula di daerah jawa timur khususnya sekitaran malang, sidoarjo, dan surabaya. Karena gunung ini yang paling dekat dan juga tracknya tidak terlalu sulit dan ketinggiannya tidak lebih dari 2000 MDPL ( meter diatas permukaan laut ) yaitu 1653 mdpl yang nama puncaknya adalah pawitra.
Dari sekian banyak jalur yang ada, mulai dari jalur tamiajeng, jalutundo dan prigen, dua jalur sudah pernah saya daki yaitu tamiajeng dan jalutundo, Alhasil kami memilih jalur prigen.  Saat sampai pos perijinan kami melihat dua orang yang sedang tertidur menjadi terbangung dengan kedatangan kami yang menggunakan kendaraan bermotor. Saat kita memarkiran motor dan menghampiri kedua orang tersebut kami disambut hangat oleh mereka yang walaupun sebenarnya kami telah mengganggu tidur nyeyaknya mereka. Dengan bahasa indonesia campur sedikit jawa mengucapkan salam kekami telah datang kesini. Dan juga dengan salam tangannya yang selama ini saya belum pernah merasakan hal ini di gunung dan jalur basecamp lainnya.
Disinilah kami menyampaikan maksud utk mendaki gunung penanggungan via prigen, yang akhirnya dijelaskan detail tentang jalur tersebut yaitu :
1. Jalur prigen adalah jalur yang sudah diijinkan oleh perhutani utk dijadikan jalur untuk menjadi salah satu jalur mendaki.
2. Dibuka dibulan maret 2017
3. Saat ini yaitu pada tanggal 17-18 september 2017 belum ada tiket masuk dan otomatis juga tidak ada asuransi. Sehingga GRATIS mendaki jalur ini
4. Jalur ini membutuhkan waktu tempuh yang tidak beda jauh dengan jalur lainnya yaitu waktu normal 5-6 jam.
5. Sumber air hanya ada di bascamp dan di leses yang jaraknya masih dekat dengan basacamp
6. Sepanjang perjalanan sudah ada petunjuknya, jadi dijamin tidak akan nyasar.
7. Sebelum naik kita diberikan beberapa lembar kertas yang berisi tentang
a. Lembar pertama : daftar anggota mendaki, no hp, alamat, keterangan
b. Lembar kedua : peta gunung penanggungan via prigen
c. Lembar ketiga : peraturan memasuki  kawasan gunung penanggungan
d. Lembar keempat dan kelima : penjelasan Penangganan pertama kecelakaan
8. Parkir motor 10.000
9. Mengganti uang fotocopy keterangan nomer 4 SEIKHLASNYA.
10. Ada wc dan musollah dirumah penjaga pos perijinan yang letaknya hanya 15-20 meter dari basecamp.
11. Ada warung yang menyediakan minuman dan makanan yang bersahabat sekali.
12. Sinyal indosat dan simpati masih bisa nyala diatas gunung, sehingga bisa menghubungi penjaga jika terjadi apa apa.

Pict:




CERITA PERJALANAN :
Kami memulai perjalanan habis subuh, sekitar jam 4.30 kita naik dan karena kami juga masih banyak yang pemula dan kurangnya latihan fisik sebelumnnya yang akhirnya kita bener benar santai dalam perjalanan banyak istirahatnya dan bahkan tidur hehe. Oiya dalam mendaki ada spot spot sebagai tempat pijakan utk melangkah ke spot selanjutnya, dengan adanya spot spot ini membuat kami memiliki targetan kecil kecil yang akhirnya dari targetan kecil tersebut bisa ke targetan yang lebih besar, spotnya sebagai berikut :
1. Pos perijinan pendakian ( 736 dpl  )
2. Nomer siji
3. Leses
4. Kran air bersih
5. Marhalan
6. Sinceng
7. Pos I
8. Dang guci ( 789 )
9. Sebacang
10. Bon bayi ( 867 dpl )
11. Pos II ( 1003 dpl )
12. Tanjakan idiot
13. Latar babi ( 1130 )
14. Selo mungal
15. Puncak awang awang ( 1290 dpl )
16. Puncak pawitra ( 1653 dpl )
Dengan banyak spot spot tersebut membuat kami merasa lebih mudah secara sikis karena utk sampe spot satu dengan yang lainnya tidak membutuhkan waktu yang lama, paling lama hanya 40 menit kurang lebih kecuali dari puncak awang awang ke puncak pawitra.
Menurut kami banyak spot yang bisa mendirikan tenda yaitu di dang gici, sebacang, latar babi dan puncak awang awang. Paling enak memang mendirikan tenda di puncak awang awang karena tempat tersebut adalah tempat terakhir sebelum menuju puncak pawitra, kalau di jalur tamiajeng seperti puncak bayangan. Namun utk view pemandangan menurut kami lebih indahan di puncak awang awang utk fotonya terlampir.
Track yang lumayan curam adalah di spot TANJAKAN IDIOT, dari namanya saja sudah membuat orang terheran heran, kenapa namanya idiot. Hehe. Namun tidak begitu lama utk menempuh tanjakan ini tidak sampai 30 menit kita sudah melewatinya dan sampai ke latar babi. Selebihnya masih normal, utk menuju puncak pawitra dari puncak awang awang tracknya tidak separah dari via tamiajeng dan jalutundo, masih relativ mudah.
Sampailah kami dipuncak awang awang dan mendirikan tenda disana, tidak ada satu orang pun ada disana, dan hanya kelompok kami saja. Karena mungkin ini jalur baru, masih banyak pendaki yang belum tahu. Kami memasak, istirahat, bermain poker,baca buku, solat, hingga malam tiba kita istirahat dan bermain poker lagi, ngaji, solat.. dan tidak minum sama sekali dimalam itu karena persedian minuman kami sangat terbatas. Dengan kondisi air minum kita yang terbatas dengan begitu saya dan temen saya mulyadi rela utk tidak sampai puncak krn terbatasnya air minum, yang akhirnya 2 temen saya saja yang naik kesana ( dadang dan didit ) adik kakak. Karena memang mereka berdua belum pernah kepuncak, sedangkan saya sudah sering ke puncak pawitra menggunakan jalur selainnya. Begitupun mulyadi juga sudah pernah  sampe puncak.
Akhirnya dadang dan didit berangkat  pasca subuh jam 4.40an ke puncak pawitra ( kesiangan ) , dan mereka membawa sebotol air menjadi bekal mereka berdua. Alhasil airnya habis setelah mereka turun dari puncak, dan persedian hanya tinggal 2 botol saja. Maka dari itu kita juga mengurungkan niat utk memasak popmie, krn airnya tinggal 2 botol utk bekal turun. Kami siap siap merapikan semua yang ada, dan kita turun jam 9nan dengan persedian 2 botol air. Dan 2 botol tersebut sudah habis spot sebacang padahal jarak utk mencapai spot kran air bersih masih jauh, kira kira 60 menitan, namun karena ini adalah turun gunung kekuatan yang digunakan tidak seberat seperti mendaki dan apalgi dari spot sebacang ke kran air bersih jalanannya bersahabat tidak membuat kaki gemetar. Hehe. Walau kami beberapa kali berenti sejenak utk mengambil nafas dan mengumpulkan tenaga kembali.  Akhirnya sampai juga dikran air bersih, disanalah sumber kehidupan.. kita minum,masak,makan dan istirahat di spot kran bersih.  Dan foto bersama di spot LESES, karena jaraknya hanya 10-15 meter dari kran air bersih.
Selama perjalanan tersebut masih sangat disayangkan masih saja ada sampah sampah plastik seperti bungkus permen, botol kosong yang tak berpimilik.. bahkan di atas puncak awang awang ada botol yang berisikan air berwran kuning kecoklatan.. apaa itu isinya ?? ingatlah undang undang dalam mendaki gunung
1. Jangan meninggalkan apapun selain jejak
2. Jangan mengambil apapun selain gambar
3. Jangan membunuh apapun selain waktu
Setelah itu kita melanjutkan perjalan hingga pos perijanan. Dan sampailah kita dipos periijan.. karena tujuan kami mendaki adalah bisa pulang dengan selamat. Aseeek.
Kami istiraht, mandi, minum es, kopi dsb..
Kami menyadari bahwa bahwa naik gunung ini gratis, bahkan utk kekamar mandi juga gratis, maka dari itu kami berinisiatif utk memberikan uang yang memang ga seberapa ya kita anggap sebagai kompensasi telah menggunakan fasilitas yang ada disana. Namun mas olin sebagai salah satu penjaganya menolak karena itu adalaha fasilitas yang disediakan, jadi tidak perlu membayarnya.  Disitulah saya merasa, waah baik banget yaa.. dan akhirnya saya menyimpulkan ini adalah gunung yang paling hemat pengeluaran nya selama ini. Karena hanya membayar parkir 10.000 + uang seikhlasnya utk mengganti fotocopyan.
Pict :


Ket : dipuncak awang awang, tenda menghadap langsung ke gunung arjuno dan welirang sambil mengkaji kebesaran sang pencipta lewat ayat yang tertulis dan juga yang tak tertulis.

Ket : sunset.. walaupun masih jam 16.25 hehe.




Ket : sunrise  dipagi hari dan sedikit narsis. Hehe ( lokasi puncak awang awang 1290 dpl )

Ket : ini foto bersama pertama kali, saat waktu turun. Spot LESES &KRAN AIR BERSIH



Ket : foto setelah mandi. ( ga ada bedanya ) wkwkw.



Ket : itu pos perijinan dan banner harga makanan dan minumannya.
Kesimpulannya :
Cocok banget buat kamu yang suka mendaki gunung baik utk pemula atau yang sudah expert, khusunya bagi para pendaki yang tempat tinggalnya didaerah surabaya, dan sidoarjo karena lebih dekat dibandingkan jalur tamiajeng dan jaluntundo, dengan asumsi menggunakan jalan gempol , pandaan, arah masjid cheng ho.

Saran saran :
- Minimal membawa 3 botol ukuran 1,5 lt per orang ( satu untuk naik, satu utk memasak, satu untuk turun )
- Paling enak naik saat malam hari, karena jika pada siang hari akan lebih menguras tenaga dengan kondisi cuaca yang panas membuat mudahnya dehidrasi.
- Tetap membawa peta yang diberikan oleh penjaga, karena ditakutkan arah petunjuk berubah arah, karena tidak semua petunjuk permanen.

Kesannya : mantap jiwa.


_Salam lestari. Salam mendaki._



Komentar